Bukan mau berkutbah melalui “cerpen” ini (cerita penting). Sekedar ingin berbagi kegelisahan melihat kehidupan remaja sekarang.
Ramadhan
Sekarang hari ke dua puluh tujuh di bulan ramadhan, jam 15:13. di depan mata, gunung berdiri angkuh di bingkai kusen jendela kamar, begitu anggun dengan selimut hijau kebesaranya. Hari yang cerah, tidak terlalu panas, tidak juga mendung. Cuaca yang Sempurna. Bagi bocah-bocah yang ingin bermain layang-layang. Sungguh pun pemandangan itu sudahlah jarang. Sekarang rental-rental playstations yang mengantikan sang layang. Yah zaman, terus berlari kencang meninggalkan mereka bagi yang tidak bersepakat denganya.
Tiga hari lagi kita lebaran, tiga hari aku baru berpuasa. Hari pertama, kedua, ketiga dan tibalah sms seorang kawan pada hari ke empat. ” raja kuring buka ry, masuknya dari belakang. nasgor sea food, dan teh manis dingin di tambah sebatang rokok. Nyess.. maknyuss.. ry..”. aku tak menyalahkan teman aku atas undanganya yang begitu menggiurkan di siang hari yang terik. Di tambah lagi rasa kesal kepada dosen yang berubah menjadi umpatan ketika si dosen tidak datang mengajar. Dari rumah ku ke darussalam berjarak kira-kira 16 kilo meter, di plototi oleh matahari, di tambah sedikit saja bujukan seorang teman, raja kuring adalah tempah singgah yang menyenangkan sebelum pulang ke rumah dari kampus.
Seperti bulan puasa tahun –tahun yang lalu. Bulan puasa kali ini juga memberikan kejutan padaku. Aku banyak berjumpa dengan teman-teman lama, berbagi cerita dan bercanda. Terkadang mentertawai tingkah laku kita sewaktu masih SMP dam SMA.
Aku bertemu dengan seorang teman lama, ketika aku masih duduk di sekolah menengah pertama. Namanya adalah,,, sebut saja namanya “kumbang”. Kumbang adalah seorang teman yang lucu. Aku ingat sekali, ketika ia masih SMP.ia adalah anak yang sangat manja, terlalu manja sampai-sampai menyeberang jalan saja harus di temani. Kumbang berbadan tinggi dan tambun, aku biasa menyebutnya si ‘kumbang yang sehat’. Rambutnya selalu cepak, matanya yang kecil di lindungi oleh tebal kaca mata segi empat. Kalau kumbang tertawa, matanya hilang seiring nampak giginya yang besar dan rapat-rapat. Kumbang anak yang baik, sewaktu SMP aku selalu pergi ke kantin bersamanya. Ia pasti akan membelikan ku semangkok bakso wak min dan teh botol, kalau-kalau suasana hatinya lagi bagus. Kumbang dan teman-teman yang lain sering sekali ke rumah ku, ngobrol layaknya kumpulan gadis, lalu berbagi cerita tentang pacar masing-masing atau perempuan yang mereka sedang incar. Kalau mereka sedang membahas romantika cinta monyet, si kumbang hanya diam dan sibuk dengan N-GAGE, hand phone yang memiliki aplikasi game. Kumbang tidak memiliki pacar, atau jarang sekali ia bercerita tentang perasaannya dengan para ‘primadona sekolah’. Ia begitu pemalu, dan tertutup dalam hal tersebut. ketika kami masih di bangku kelas tiga SMP, ia pernah curhat kepada ku, bahwa ia sangat menyukai seorang gadis, anak dokter. Dan ia tergila-gila padanya. Aku mengatakan kepada kumbang, untuk segera bergerak cepat melakukan PDKT, dan menembaknya! Tapi kumbang memilih menyembunyikanya dalam-dalam.
Ketika kami naik ke SMA, aku berbeda sekolah dengan si kumbang. Komunikasi dengan dia sudah jarang.bahkan hampir tidak ada. Karena masing sibuk dengan urusan sendiri. tsunami datang.... aku pindah ke jakarta satu tahun setengah, kali ini aku sama sekali kehilangan kontak dengan si kumbang. Tak ada no telefon, alamat atau apa pun yang bisa menjangkaunya, bahkan aku tahu apa kumbang masih hidup atau tidak. Waktu itu pun aku tidak mau mengingat tentang aceh sedikit pun, banyak sekali yang hilang tak tergantikan, termasuk yasmine, cinta monyet ku selama satu tahun enam bulan ikut meninggal dalam tragedi itu. Jadi aku berusaha untuk tidak ‘menyentuh’ segala sesuatu yang menyangkut tentang aceh. retro, embassy, billiard, bir, dan perempuan-perempuan multikultural yang cantik. Jakarta seakan memberi ku pil tidur sejenak untuk melupakan kenyataan. Sampai suatu hari bunda mengajak ku ke rumah sakit pertamina, karena aku selalu lesu, malas sekolah dan mulai bandel. Sudah di atur pertemuan dengan seorang psikolog untuk membantu memahami kegilisahan ku. dua setengah jam lebih kami berbicara mendalam, mugkin kesabaran perempuan setengah baya ini hampir musnah, lalu ia mengatakan sambil menatap ku dalam- dalam. “ory,, yasmine itu sudah mati. Ia mati. Mati. Mati mati. Apa kamu paham?”. Kata-kata dia seperti sebuah tamparan, ia sengaja tidak mengganti kata ‘mati’ dengan kata’ meninggal’, untuk memberi tekanan pada maksudnya. Aku bangun dari tidur panjang, dan kerja otak memang lebih sehat jika jauh dari pengaruh alkohol, aku langsung berfikir
“yasmine telah mati, aku masih hidup,maka aku harus lanjutkan hidup. Cari pacar baru, she will understand,,”.
Tepat setengah tahun, Aku pulang kembali ke aceh. tetapi tetap aku belum bertemu dengan semua teman-teman ku. tapi dari kabar yang ku dengar, kumbang selamat sekeluarga dari amuk laut, namun ayahnya meninggal dunia. Aku cepat-cepat mencari keberadaan dia, dan kami bertemu kembali. Kami adakan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman. Acaranya sederhana, namun penuh kesan. Tetapi dari mata mereka saat itu, berkata ‘bahwa tsunami tak pernah ada’. Kesibukan masing-masing yang memisahkan kami lagi, aku sibuk dengan pergerakan, pena merah, SIKMA dan mulai menulis. Begitu juga yang lain.
Pada malam ke lima belas ramadhan, kumbang menelfon aku, katanya penting. Aku harus segera bertemu dengan dia. Kami janjian di sebuah kedai minum di daerah prada. Aku tiba lebih dahulu, teh hangat telah menjadi dingin, baru si kumbang datang.
Malam itu kumbang mengenakan baju koko putih, dan wangi bvlgari yang khas selalu mendahului senyumnya. Kaca matanya tak lagi segi empat kaku, kini ia lebih trendy dengan kaca mata barunya. Kami berjabat tangan lelaki. Mantap dan erat.
Tanpa buang waktu, kumbang langsung bercerita kepada ku tentang masalah yang ia hadapi. Dari A sampai Z. Dua jam kami duduk berdua, bercerita dengan sangat detail, terlalu detail untuk hal-hal yang tak ingin ku dengar. Sepanjang cerita ia terus tertawa, dan bercanda. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan air muka nya yang muram, memancarkan hatinya yang sedang gundah.
Bukan main aku terkejut benar, mendengar masalah si kumbang. Pertama aku tak percaya, di tambah lagi ia selalu bercanda ketika ia bercerita. Tapi ku lihat keseriusan yang dekat dengan ke panikan di balik kaca matanya. Begini, kumbang memiliki pacar. Pacar yang ia sangat sayangi. Ia begitu sayang dengan pacarnya, sampai –sampai ia tak tega jika tidak mengabulkan permintaan dia. Tas, sepatu, jam, dan barang-barang lain selalu ia berikan untuk belahan jiwanya. Pernah sewaktu waktu, sang kekasih tak punya uang untuk membayar SPP di kampus, kumbang juga yang membereskanya. Hubungan mereka sudah berjalan cukup lama, sekitar sembilan bulan. Menurut keterangan si kumbang. Cinta, kasih sayang, dan perhatian sudah penuh untuk sang kekasih pujaan hatinya. Begitu juga dengan pacar si kumbang, cinta, kasih sayang, perhatian dan tubuh nya pun sudah utuh di berikan kepada si kumbang.
Yang terakhir ini yang membuat ku terkejut setegah mati!
KUMBANG SUDAH ML! KUMBANG SUDAH NGENTOT! (bahasa slank nya-bersetubuh). KUMBANG SUDAH ME’OOK! (bahasa aceh nya-bersengggama).
Aku tatap kumbang serius, hampir tak percaya, anak manja yang ku kenal, bocah pemalu yang baik hati, kawan yang ku kenal ketika ia masih beringus, telah melakukan hubungan intim di luar nikah. Yaa, aku bukanya menghakimi si kumbang, tetapi jelas bagi aku, muslim tidak boleh ML, ngentot, dan me’ook di luar nikah. Itu menyalahi norma agama dan juga adat. Aku mengatakan itu kepada kumbang dengan gamblang, dengan berusaha membuat dia tidak merasa terhakimi. Aku bertanya kepadanya, apa perempuan itu masih perawan. Ya! Jawab kumbang. Sekarang wajah kumbang lesu. Tak lagi ia bercanda apa lagi tertawa. Ia melanjutkan ceritanya. Bahwa permasalahan intinya menurut si kumbang adalah, orang tua si pacar, tidak setuju dengan hubungan mereka. Lantaran si kumbang adalah orang GAYO. Entah kenapa calon mertua, si bapak tak mau anaknya menikah dengan orang gayo. Apa lagi menurut kata si kumbang, bapaknya akan menjodohkan anaknya dengan pria ideal pilihanya. Aku mengatakan kepada si kumbang untuk melakukan pendekatan dengan calon mertuanya yang keras itu, besi aja di gosok bisa bengkok! Aku mencoba menghiburnya. Kumbang kembali bertutur lesu, bahwa ia pernah mencoba berbagai cara untuk di terima oleh calon mertuanya. Tapi semua gagal, malahan situasi menjadi semakin sulit. Kalau ketawan si kumbang masih berhubungan dengan anaknya, akan aku pasung anak gadis bungsu ku! demikian ultimatum dari sang bapak!
Kumbang mengeluh pusing kepada ku memikirkan masalah ini. lalu aku bertanya kepadanya, “bagaimana kalau ayahnya tetap tidak setuju dengan hubungan kalian dan terus ingin menjodohkannya dengan pria lain?”.
“yaa sudah, aku akan cari cewe lain ry..”. seulas senyum merekah di wajahnya yang lebar, dan aku tau jawaban itu bukan datang dari hatinya.
“ tetapi darah perawananya sudah tumpah di antara selangkangan kau, bang!”.
“dan ia akan di jodohkan dengan cowo’ lain, bagaimana jika calon suaminya tau bahwa ia tidak perawan lagi, bagaimana bapaknya tau, ibunya, kakaknya dan orang tua kau tau??!”. Senyum itu musnah benar ku rentet dengan tanya.
Aku mengatakan kepadanya, hanya masalah waktu ketika bapaknya akan tahu, bahwa anak gadisnya sudah tidak perawan lagi. Dan kumbang yang melakukanya. Kumbang hanya diam. kini wajahnya muram, mungkin ia merasa benar-benar putus asa atas keadaan ini.
Ku mencoba menenangkanya, walau tak bisa ku sembunyikan rasa kecewa ku padanya.
Kami pulang ke rumah masing-masing.
Beberapa hari kemudian kumbang mengajak ku jalan, ia menjemput ku di tempat biasa aku ngumpul dengan teman-teman. Kami jalan-jalan keliling kota dengan mobil kumbang. Tasbih menggelantung di spion mobil, baju koko yang sama kumbang kenakan malam itu dengan perjumpaan yang lalu di prada. Malam itu wajahnya berseri, senang betul hatinya. Ia banyak tertawa dan bercanda. bau Bvlgari nya seperti mencabuti bulu hidung ku. aku segera bertanya, ada apa gerangan????
“ besok aku ambil jatah ry..!!”. ia tertawa konyol.
“ maksud..?” tanya ku mengejek.
“besok rumah aku kosong, aku bawa dia ke rumah.”. ia tersenyum, salah satu senyum paling brengsek yang pernah aku lihat. Segera aku tahu apa maksudnya.
Aku tak dapat mencegah rasa ingin tahu ku. sedikit demi sedikit aku bertanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan itu.
“pake kondom?”. Tanya ku.
“tidak enak!”. Jawab si kumbang.
“apa tidak takut hamil..?”. tanya ku kembali.
“tembak luar lah.. kawan..!!”. senyum brengsek kedua yang kulihat malam itu.
Sepanjang jalan ia terus bercerita. Sangat mendetail. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menjadi pendengar yang baik, karena aku begitu penasaran.
Lalu ia bertanya kepada ku, apa aku pernah mencium pacar aku. aku menjawab, ya. hanya sebatas cium, dan itu pun jangan kau gunakan imajinasi mu yang liar ketika menggambarkanya di dalam kepala.. Ia tertawa dengan keras. Sungguh! Aku menekankanya, aku fikir ia tidak percaya.
“ciuman juga dosa, ML juga dosa. Dosa nya sama aja”. kumbang mulai menceramahi ku.aku melakukan pembelaan kepada kumbang. Bahwa jelas beda, antara dosa ciuman dan me’ook!. Kami pun berbedebat sebentar tanpa ujung. giliran aku menceramahinya sekarang. Aku mengatakan kepadanya, ada tiga alasan kenapa aku tidak berani macam-macam dengan perempuan. Yang pertama, dosa. Alasan ini memang klise bagi sebagian orang, namun cukup ampuh. 44 tahun amal kita tidak di terima jika ML di luar nikah! Siapa yang mau merugi 44 kalender karena kenikmatan 15 menit? Logika ku cukup sehat buat mencerna itu. Yang kedua, aku merasa bersalah secara moral jika meniduri perawan atau bukan perawan. Entah kenapa tertanam nilai di dalam diriku bahwa, ngentot di luar nikah adalah hina. Amoral. Yang ketiga, di dalam kepala ku, jika aku meniduri seorang gadis, pasti ada yang akan meniduri adik perempuan ku yang masih duduk di bangku SMA, atau mungkin anak gadis ku kelak. Apa yang kau tanam, itu yang kau tuai. Tiga alasan tadi sudah cukup kuat buat ku untuk menahan diri dan onani dua kali dalam seminggu. Kumbang bilang kepadaku, setengah mengejek, bahwa aku cowo’ kolot, konservativ, tidak mengikuti zaman dan bla..bla..bla...!!. geram aku mendengarnya, namun ku sembunyikan di depanya. Langsung aku mengutip kata-kata soe hok gie ‘LEBIH BAIK DI ASINGKAN DARI PADA MENYERAH KEPADA KEMUNAFIKAN’.
Aku langsung mulai berpidato di mobil, dengan suara yang tegas dan besar.
“aku ini pribadi yang senantiasa merdeka! Tidak akan ku biarkan jiwa aku hanyut di bawa arus zaman yang edan!. Biar mampus aku di bilang ketinggalan zaman, yang penting aku berjalan sebagai seorang yang merdeka. Seorang pria terhormat yang merdeka. Sadar tidak, kau bang?? Kau sudah di jajah oleh zaman! Zaman kita ini sudah di racuni oleh hegemoni barat (liberal). Sekarang semua di dikte oleh tv! tv mengajarkan kita, kaum muda bagaimana cara kita berpakaian, sex sehat ala pamela anderson, majalah majalah mencitrakan gadis cantik sebagai berikut: langsing hampir seperti kurang gizi, putih, rambutnya lurus bercahaya, hak tinggi merek gucci, tas kecil merah chanel, baju nya LV, hand bodynya the body shop, lipstick nya ninna richi! Kapitalis brengsek!! Kapitalis kurang ajar!! Kapitalis, kapitalis semua punya kerja! Kau tau itu kumbang! Kita dalam hegemoni terus menerus! Kepala kita di isi taik agar pasar tidak mengalami krisis!
Pasar bebas apanya! Tidak ada pasar bebas! “Double speak!!”. Mana mungkin air limun lawan coca cola! Ayam goreng kampung lawan KFC! Kau juga korban kapitalisme! Kau fikir ngentot itu keren! Pecahin perawan itu macho! Ada rasa malu jika masih perjaka!! Kau salah teman! Kau salah!!! Tapi ini bukan sepenuhnya dosa mu teman, sistem yang membentuk pribadi-pribadi orang macam kau ini! kau tau, apa bagian terparah dari semua ini! seperti yang kau bilang barusan! Aku ini kolot, ketinggalan zaman! Yah, orang macam aku ini di anggap asing! Di anggap aneh! Sekarang siapa yang asing?? Kau atau aku? Asing di negeri sendiri! siapa yang aneh? Aneh di anggap keren! “.
Habis napas ku, tanpa sadar aku mengomel, tapi bukan kepada si kumbang, aku hanya ingin mengomel sendiri. kekesalan yang sudah mengendap begitu lama, gumaman yang jarang sekali di beri ruang untuk menjadi teriakan. Lega hati ku sekarang.
Kumbang malahan tertawa keras-keras mendengar pidato ngawur aku, aku pun juga ikut tertawa terbahak-bahak. Sampai-sampai, mata kami berair. Entah hal apa yang lucu membuat kami tertawa. Mungkin kumbang heran melihat ku merocos ngawur lalu ia pun tertawa, sedangkan aku tertawa karena kumbang tertawa keras dengan lengkingan yang sangat aneh. Ku lihat mata kumbang, lalu aku bilang dengan suara yang datar.
“bang, sudahlah... jangan di ikuti kali. Nanti kena batunya! Baru kapok!”
Kumbang malah terus tertawa lebar, gigi grahamnya pun ikut kelihatan. Ku lihat matanya, seakan tsunami tak pernah terjadi. kami pun pulang ke rumah dengan perasaan lega dan lapang.
KALAU ANDA FIKIR NGENTOT (DI LUAR NIKAH) ITU KEREN! ANDA SALAH BESAR! KALAU ANDA FIKIR ML ITU NIKMAT! ANDA SALAH BESAR! PRIBADI YANG PROGRESIF SADAR BETUL, NGENTOT DI LUAR NIKAH ADALAH KORBAN DARI SISTEM KAPITALISME! KORBAN KORPORASI INTERNASIONAL YANG INGIN MERUNTUHKAN TEMBOK-TEMBOK KEBUDAYAAN. KALAU ANDA TIDAK SEPAKAT DENGAN GLOBALISASI, LAWAN DENGAN MENAHAN DIRI DENGAN TIDAK ME’OOK SEMBARANGAN SELAGI MASIH BUJANG! STOP ME’OOK BEBAS! STOP NGENTOT BEBAS! STOP ML BEBAS! SALAH SATU BENTUK PERLAWANAN NEOLIBERALISME!
LAWAN
LAWAN
LAWAN