Selasa, 29 September 2009

surat untuk karib, merlot merah.

SURAT UNTUK MERLOT MERAH

Jadi memilih jadi borju atau melawan? Atau menjadi borju yang melawan? Atau menjadi borju yang melawan dengan menulis? Atau menjadi borju yang melawan dengan tidak menulis lagi? Yang tidak baik adalah tetap yang pertama: menjadi borju; atau borju yang melawan tapi tidak menulis lagi karena sibuk melawan. Yang ingin aku sarankan sebagai bekas borju sekurang-kurangnya adalah menjadi borju yang melawan dengan menulis. Menjadi borju adalah nasib buruk di mata para pelawan. Menjadi pelawan dengan hanya mengandalkan toa dan retorika hanya akan menyisakan nostalgia pada hari tua setelah suara habis.

dari si Merlot Merah

Salam, Merlot Merah. Malam ini, malam yang biasa. Setelah meneguk dua gelas kopi bersama teman teman di kedai pinggir sungai asycheh, tepat di depan benteng hijau yang dingin berdiri. Malam ini, malam yang biasa. Setelah aksi siang tadi, berteriak dengan lantang. menghujat orang orang yang ingin memotong tangan si miskin yang mencuri karena lapar, namun membiarkan si kaya penuh kuasa tertawa dalam penghisapannya terhadap si jelata yang tak berdaya. Hari itu, sebuah kitab peraturan disahkan. Sebuah kitab peraturan yang akan diberi legitimasi oleh ‘cap tuhan’. Namanya kitab qanun jinayah. Setelah berijtihad dengan teman teman, muncul kesimpulan, bahwa tuhan sudah tidak hadir lagi untuk melindungi si lemah, kaum papa. Namun tuhan sudah memihak kepada si zhalim, mereka yang berlindung di balik kekuasaan. Karena termaktub dalam kitab qanun jinayah itu, sebagaimana kitab yang sudah dituliskan dan yang akan dituliskan oleh mereka yang mengaku sebagai perwakilan setiap insan, yang lemah maupun kuat, yang kaya maupun miskin. Merlot, bantah aku jika aku salah, sila baca kitab itu. Tak sanggup kuutarakan seluruh isi kitab di dalam surat ini, sungguh memilukan hati. Merlot, ingat, kecilkan suaramu ketika membaca surat ini, kudengar, dari seorang orator berjanggut yang memimpin 8 orang demonstran pada hari yang sama ketika kami melakukan aksi, bahwa siapa yang mempertanyakan, mendiskusikan, apa lagi menggugat kitab-kitab yang diberi ‘cap tuhan’, maka mereka adalah tergolong manusia-manusia yang durhaka dan nista. Jauh dari dari bau surga. Oleh karena itu, tak bisa kusampaikan isi dari kitab itu dalam surat ini, takut nantinya surat ini dibaca oleh si nomor 8 (orator berjanggut yang memimpin 8 orang demonstran) dan pengikutnya.

Bantah aku jika aku salah Merlot!

Merlot, sudah banyak kitab peraturan yang dikeluarkan, dan akan banyak lagi. Semua di beri ‘cap tuhan’. Kau tahu Merlot, di negeri tempat aku tinggal ini, minuman keras dilarang keras. Ini juga diatur dalam salah satu kitab peraturan yang sudah diberi ‘cap tuhan’. Tetapi tenang saja, Merlot, kalau kau datang ke negeriku, kau akan bisa mendapatkan segala jenis minuman yang kau sukai. Yaa, terlintaslah di kepalamu segala macam merk, rasa dan segala bentuk botol yang terlihat seksi. Seksi? Di negeriku, wanita berpenampilan seksi tidak bisa kau lihat. Tidak ada perempuan yang mengenakan sepatu hak tinggi, rok mini, tank top tali sphageti, dan membiarkan rambut terurai jatuh ke permukaan punggungnya yang mulus. Semua perempuan diharuskan membungkus diri mereka dengan pakaian longgar dan jilbab. Suka atau tidak, ikhlas atau menolak, mereka harus mengenakannya. Bagi mereka yang menolak untuk berpakaian seperti itu, akan berhadapan dengan para

‘polisi tuhan’ the Watcher of Holy god (WH), yang tentunya surat perintah mereka telah diberi ‘cap tuhan’ terlebih dahulu. Mereka akan menangkapi perempuan-perempuan yang mengenakan pakaian yang tidak di‘sukai’ tuhan dan mereka akan mencambuk para peminum khamar di depan khalayak, semuanya mereka lakukan atas dasar ‘cap tuhan’ yang mereka telah terima. Bagi mereka yang tidak bersepakat dengan peraturan yang sudah diberi ‘cap tuhan’ akan menghadapi hukuman yang kejam. Cambuk menanti tubuh para pendosa untuk dicabik dagingnya. Pencuri sepeda akan kehilangan tangannya, peminum khamar akan dicambuk di depan khalayak ramai sampai mereka menangis menyesal untuk dilahirkan di negeri ini, dan perempuan-perempuan yang tak mau mengenakan jilbab harus bersembunyi ketika berjalan di kota atau sekedar berpura ikhlas mengenakan jilbab demi aman dari razia WH.

Merlot, tentu kau akan bertanya, negeri apa tempat aku tinggal ini? Sama sekali tidak mirip dengan tempat dimana kau berasal. Kuberitahu kau sesuatu, negeri ini, negeri dimana aku tinggal, adalah negeri 1001 kepalsuan. Ini adalah negeri dimana kami hanya melihat wajah tuhan yang kita yakini dengan wajah yang bengis. Di sini dimana kami merasa tuhan menatap kami dengan penuh kemurkaan, sampai mengalahkan rahmat-NYA luas. Di negeri ini, Merlot, kami seperti domba-domba galau yang harus dipecut agar tidak tersesat untuk sampai pada padang firdaus yang hijau. Namun Merlot, jangan kau urungkan niatmu untuk mengunjungi negeri ini. Peraturan disini agak longgar bagi mereka yang berbeda kepercayaan dengan kami. Di negeri ini, sedikit banyaknya kami punyai apa negerimu miliki, Merlot. Jika kau berkunjung kemari, akan kuajak kau ke klub-klub tersembunyi, walaupun tidak sensasional seperti di Amerika Latin, tetapi kau bisa lihat gadis gadis ‘lucky’ (lugu-lugu pukimak) negeri kami menggunakan sepatu hak tinggi, rok mini, ber-tank top tali spaghetti, dan punggung mereka yang mulus sudah basah oleh keringat karena tubuh mereka menolak berhenti mengikut alunan music trance dan progresif yang berdendang keras. Menurut rumor yang berkembang, ada seorang gadis lokal yang bernama Angelly yang menjadi buah bibir di seantero negeri ini. Konon, katanya, ia mampu menghipnotis pemuda-pemuda untuk meneteskan liur mereka ketika melihat Angelly menari di lantai dansa. Dan aku akan mengajak kau ke tempat dimana Angelly memberi warna tersendiri di negeri ini. Jangan khawatir Merlot, aku paham, pasti akan hambar jika menikmati liuk tubuh Angelly tanpa menenggak minuman kesukaanmu. Aku mengenal sorang tua tionghoa. Ia tinggal di sudut kota daerah pecinan. Dia sangat terkenal di kalangan penikmat khamar. Karena hampir segala macam jenis minuman dapat ia sediakan, dan dalam jumlah yang kita inginkan. Johnny walker, controu, tequila dan wine. Apa yang kau inginkan Merlot Merah? Ku yakin pak tua itu punya stock yang cukup untuk mengisi lambungmu yang mirip gentong anggur itu.

Merlot, kau tidak perlu risau soal WH. Di negeri ini, cap tuhan tidak berlaku untuk mereka yang berseragam hijau dan memegang senjata. Kuasa mereka di sini kebal, atau cukup menakutkan untuk lebih mampu memberikan bukti apa ganjaran bagi mereka yang melawan. Sederhananya, di negeri kami, kuasa mereka yang berseragam hijau dan memegang senjata lebih mampu menghadirkan neraka langsung ke dalam kehidupan nyata ketimbang tuhan. Merlot, kau mungkin bisa menanamkan sedikit uangmu untuk investasi di negeri ini, mungkin kau bisa membangun sebuah klub malam yang seliar imajinasimu Merlot Merah. Ku tahu kau pecinta klub malam dan segenap kebinalan gelap dalam tudung malam. Kau tidak berjudi dengan investasi macam itu, selain berjudi itu dilarang di negeri kami, aku jamin usahamu itu akan laris manis. Penduduk negeri kami begitu haus hiburan ketimbang haus iman, Merlot. Bukanya kami sudah bosan beriman atau menolak beriman, tetapi segala kitab peraturan yang di beri ‘cap tuhan’ menjelaskan, sepertinya iman hanya milik sekelompok kecil manusia di negeri ini. Yang lainnya, karena tidak beriman, tidak lebih ubahnya kumpulan domba-domba yang butuh gembala, dari mereka yang menerima email tuhan setiap seminggu sekali. Merlot, jika kau benar-benar ingin meneruskan niatmu untuk menancapkan namamu di setiap penjuru dunia, “Night Klub Red Merlot”. Aku yakin, jika kau dirikan klub malam di negeri aku ini, pasti orang akan sesak berkunjung dan ketagihan ingin lagi dan lagi! Bisa mengalahkan popularitas namamu di New York, Berlin, Buenos Aires, dan di berbagai negeri tempat klub malam dan namamu menjadi tersohor. Jangan khawatir soal WH, jangan khawatir soal cap tuhan di negeri kami. Bagi pemodal besar macam kau, kau bisa menyediakan upeti yang cukup membuat mereka yang berseragam hijau dan bersenjata, sumpah setia pada namamu, Merlot Merah. Mereka yang berseragam hijau dan bersenjata bukannya tidak takut terhadap cap tuhan namun mereka memiliki tuhan yang berbeda dengan tuhannya WH atau si nomor 8, tuhan mereka adalah keuangan yang maha esa. Dan kau bisa menyandera tuhan mereka dan menjadikan mereka sebagai pasukan pribadimu. Karena mereka, terkenal sangat loyal pada tuhan mereka, uang. Pasukan baru mu ini akan menjaga pintu palang modalmu dengan setia dan siap mati mempertahankanya. Percayalah.

Merlot, terimakasih atas nasihatmu untuk terus tetap melawan. Tetapi Merlot, terkadang aku berfikir, aku melawan buat siapa? Buat tuhannya WH dan si nomor 8? Kebengisan tuhan mereka sudah cukup menindas kaum lemah dan papa, membuat kuingin melawan tuhan mereka jua! Atau untuk tuhannya mereka yang berseragam hijau dan bersenjata? Tuhan mereka yang ada di kantongku, sudah cukup untuk membelikanku dua gelas kopi dan sebungkus rokok untuk menghangatkan suasana bersama karibku. Ah, aku bingung Merlot! Aku harus berjuang untuk sebuah tuhan. Harus. Karena di dalam hatiku percaya ada tuhan yang yang hadir untuk semua manusia, tuhan untuk semua, dan Tuhan yang ada untuk semua manusia dalam kepalaku itu, sepertinya sudah dikudeta ribuan kali di negeri ini. Secara tak tahu malu dan segan, mereka mengambil paksa ‘cap tuhan’ , entah itu oleh WH, si nomor 8 atau juga mereka yang berseragam loreng hijau dan bersenjata.

Sekian surat dariku Merlot Merah. Aku harus pergi dahulu. Teman-temanku menunggu di kedai kopi. Mungkin malam ini, malam 1001 bulan, aku bisa mendapatkan hidayah dengan berijtihad dengan para karibku, dan menemukan siasah untuk mengkudeta tuhan mereka dan mengembalikan tuhanku pada tempatnya.

Salam hangat, Oryzos.

suatu malam, pada penghujung ramadhan.

Senin, 12 Januari 2009

mari bertahan dan melawan!

saudara saudara ku, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, kakak dan adik, abang dan paman, bibi dan keponakan, teman dan sahabat. dan semua yang bergetar melihat penindasan terjadi pada umat islam.

saudara ku, inilah saatnya, dimana kita harus berdiri sedikit lebih tinggi dari mereka, dan berkata "AKU PERCaYA PADA TUHAN, YANG TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN UMATNYA".

inilah saatnya, kita lafazkan kembali dua kalimat syahadat, dengan sungguh sungguh, dan biar kan api yang berkobar kobar itu semakin menyala dan menjilati ambang batas kesabaran kita.

kami memang cinta damai, umat islam memang cinta damai! tetapi kami lebih cinta kepada kemerdekaan! sebagaiman tuhan mengutus muhammad ke dunia untuk memerdekakan umat manusia.

hari ini, mari kita kabar kan tuhan, sebuah kabar gembira! sebuah kabar yang akan menggetarkan singgasan langit dan tiang surga!

BAHWA HARI INI, KAMI BERIKRAR UNTUK BERJUANG SEBISA MUNGKIN, DENGAN SEGALA UPAYA, DAN KEMAMPUAN KAMI, UNTUK MELAWAN SEGALA BENTUK PENINDASAN DAN PENJAJAHAN DALAM BENTUK APA PUN , TERHADAP UMAT ISLAM DAN UMAT MANUSIA SEKALIAN! BAHWA KEADILAN BUKANLAH SEBUAH KADO CANTIK YANG BERIKAN BEGITU SAJA, TETAPI KEADILAN ADALAH SEBUAH MIMPI! MIMPI DI SIANG HARI! SEBUAH MIMPI YANG BISA KTA WUJUDKAN! MIMPI YANG BISA KITA HADIRKAN DALAM KEHIDUPAN NYATA!

dengan segala kerendahan hati kami, dan semua peri pedih yang ada di relung kalbu kami, atas nama derita dan sengsara kami, atas nama janji tuhan yang maha suci, kami menyatakan untuk terus hidup dan bertahan, sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap kekuatan yang ingin menghancurkan kami sebagai sebuah kesatuan keimanan!

"yaaa rabb.... yaa...allah..."

Senin, 05 Januari 2009

SEDIKIT PLEDOI DARI KAMI (MENANGGAPI TENTANG KISRUH MAHASISWA UNSYIAH)

Negara dalam derita. Bangsa dalam Sengsara. Dan negara bangsa kita dalam cengkraman kapitalisme. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi rakyat indonesia, protes terhadap setiap kebijakan publik yang dikeluarkan pemerintah yang tidak pro rakyat. Lalau kita kembali bertanya, apa rakyat yang bodoh, atau memang pemerintah sedikitpun tidak berpihak pada kita?

Pada tanggal 17 Desember 2008, UU BHP disahkan oleh DPR, sejak tahun 2005, gelombang penolakan terhadap rancangan UU BHP sudah menggeliat, walau pun masih di tataran kampus dan dalam skala yang kecil. Namun ketika UU BHP disahkan oleh parlemen kita, gelombang penolakan yang biasanya datang dari seminar dan diskusi-diskusi kecil, kini mulai menampakan karakternya yang radikal dan progressif.

Makassar dan Jakarta bergejolak. Mahasiswa turun memobilisasi massa dalam jumlah besar, di jalanan, para intelektual muda ini berhadapan dengan alat represif negara. Polisi. Pemukulan dan penangkapan terjadi. Mahasiswa UI masuk ke ruang rapat DPR ketika para anggota dewan sedang membahas rancangan UU BHP, lalu membuat kegaduhan sehingga rapat ditunda. Gaung perlawanan mahasiswa Jakarta dan Makassar ditangkap sempurna oleh media masa. Dan memberikan dampak yang luas bagi daerah daerah lain, seperti di Aceh dalam hal ini.
Pada tanggal 17 Desember 2008, ketika palu parlemen di jakarta mengesahkan UU BHP, maka sebagain besar mahasiswa di Universitas Syiah Kuala menyatukan komitmen dan sepakat untuk menolak UU BHP. Berdirilah sebuah front bersama yang dimotori oleh semua elemen mahasiswa dan masyarakat, FRONT MAHASISWA ACEH TOLAK BHP.
Diskusi mendalam soal BHP dilakukan secara intens, seiring pembedahan UU BHP secara yuridis juga tetap dilakukan. Pada akhirnya kami samapai pada 2 poin besar, yang pertama transfer pemahaman internal di dalam kampus soal BHP harus lebih massif dan mendalam mengingat mahasiswa Aceh hari ini belum sepenuhnya paham, malapetaka yang akan mereka hadapi. Yang kedua, harus ada upaya advokasi secara legal untuk melawan UU BHP yang zhalim ini.

Bicara soal BHP adalah bicara soal kapitalisme pendidikan.

Dalam Undang-Undang Dasar ‘45, sangat jelas diterangkan peran Negara dalam mencerdaskan rakyat. Bahwa Negara berkeharusan menyediakan pendidikan yang layak dan bermutu bagi seluruh warga negaranya. Kita yakin dan percaya, para pendiri Republik ini beritikad penuh untuk membawa roda sejarah bangsa kita menuju puncak kejayaannya.
Ini terbukti, bahwa mereka menempatkan titik tekan yang kuat dalam bidang pendidikan. Pada dasarnya, solusi yang paling fundamental membawa bangsa ini keluar dari keterpurukan zaman dan krisis multidimensi adalah dengan mewujudkan pendidikan yang membebaskan dan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat.
Sebagaimana termaktub di dalam Pasal 26 ayat 1 Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia PBB tahun 1948 bahwa : “Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harus dengan cuma-cuma, setidak-tidaknya untuk tingkatan sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus terbuka bagi semua orang, dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama oleh semua orang, berdasarkan kepantasan”.

Namun kita lihat pada hari ini, Negara, sebagai lembaga tertinggi seakan melepas tangan terhadap tanggung jawab ini. Pemerintah Pusat telah memberikan kita begitu banyak celah untuk menggugat mereka, sepertinya, bukannya mereka tidak sanggup mengelola Republik ini denga segala karunia yang Allah berikan kepada kita, tetapi lebih kepada kurangnya I’tikad baik politik mereka yang mau benar-benar berpihak dan memperjuangkan rakyat. Ini bisa kita lihat dari produk hukum yang dikeluarkan Pemerintah Pusat selalu saja menguntungkan segelintir orang dan merugikan rakyat kebanyakan.
Lihat saja, bagaimana mungkin pemerintah kita menyetujui sebuah undang-undang yang jelas-jelas menghisap darah orang tua kita dan darah mereka yang mau berkehidupan yang lebih baik, darah anak-anak yang ingin jiwa dan pikirannya terbebaskan dan tercerahkan, darah rakyat!

BHP (Badan Hukum Pendidikan) adalah sebuah bukti nyata bahwa Negara tidak mempunyai rasa kemanusiaan terhadap pemenuhan hak dasar warga negaranya.
Hak terhadap akses pendidikan yang baik dan bermutu bagi semua orang. BHP adalah salah satu bentuk lepas tangan pemerintah dalam bidang pendidikan.
UU BHP memberikan restu kepada lembaga pendidikan formal (SD, SMP, SMA dan UNIVERSITAS) untuk bekerja sesuai dengan mekanisme pasar.
Lembaga pendidikan tidak ubahnya menjadi sebuah perusahaan, managemen dan rumusan pasar yang berlaku di sana. Peluang privatisasi dan komersialisasi unversitas amatlah besar, malah dipaksakan. Privatisasi dan komersialisasi hanya tertuju pada satu tujuan, profit oriented (mengejar keuntungan dan memaksimalkan laba) bukan pada customer satisfaction (kepuasan konsumen, dalam hal ini konsumen adalah mahasiswa).
Dan pada akhirnya, formula bisnis, bahwa bisnis tidak mengenal siapa,tapi berapa, akan diterapkan di Nanggroe kita tercinta ini.

Maka dustalah bagi mereka yang percaya UU BHP dapat mendongkrak mutu pendidikan Aceh, dan Indonesia secara keseluruhan!

Beberapa unversitas nasional yang sudah menerapkan UU BHP mulai rontok satu persatu karena tidak sanggup mengelola dengan baik, ditambah lagi budaya korupsi yang telah mengakar akan memperburuk kondisi unversitas yang akan atau telah menerapkan UU BHP, mengingat transparansi dana dan akuntabilitas adalah sesuatu yang langka di Republik ini.
Namun dimana ada penindasan, di situ selalu ada kaum yang siap melakukan perlawanan. Mahasiswa bersama dengan seluruh element masyarakat di seluruh Indonesia telah menggaungkan suara perlawanan yang sama, TOLAK UU BHP!
Perlawanan yang dibangun atas dasar niat yang tulus, semata mata demi kepentingan rakyat banyak dan mewujudkan cita-cita bangsa, adalah sebuah jalan panjang yang terjal berduri. Bahwa hari ini kita masih yakin pada dua kalimat syahadat, bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Dan Muhammad Adalah Utusan Allah!

“INNA SHALAATII WANUSUKII WAMAHYAAYA WAMAMAATII LILLAAHI RABBIL ’AALAMIN”, Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah bagi Allah yang menguasai sekalian alam. Kalimat ini lah yang terpatri di dalam dada kami, yang telah memercikkan api revolusi yang menyala-nyala! Ketika dua kalimat syahadat sudah merasuk benar ke dalam relung hati dan jiwa, maka genderang perang akan ditabuh untuk melawan segala bentuk kezhaliman!

Aksi yang mulai kami gencarkan pada hari Senin (22/12) adalah sebuah shock therapy (terapi kejut) bagi Penguasa Dhalim di sekitar kita, yang akan menerapkan kebijakan yang akan mencekik leher kita semua. Ini bukanlah sebuah aksi latah dan bukanlah sebuah aksi sewaan. Kami percaya, Allah akan memberi kami semangat dan tenaga untuk terus melakukan perlawanan!

Ada kalangan menilai, bahwa aksi Front Mahasiswa Aceh pada hari itu adalah aksi yang tidak simpatik dan reaksioner. Memang saya menilai secara pribadi, bahwa aksi kami ke kantor PEMA adalah sebuah jebakan, karena adanya indikasi yang kuat bahwa pihak PEMA sudah mensetting, agar kondisi ricuh dan chaos.
Bagaimana mungkin seorang Seketaris Jenderal PEMA, Fadli JR, dengan sengaja memancing emosi teman teman Front Mahasiswa Aceh Tolak BHP ?
Tindakan provokasi yang dilakukan Fadli adalah dengan ‘memantati’ demonstran yang lelah dan kepanasan, adalah faktor kunci terjadinya bentrokan antara pengurus PEMA dan FMA.
Yang menyebabkan Koordinator FMA Fauzan Febriyansyah dan Ketua BEM Fakultas Teknik M. Falhan Qadri berstatus tersangka, dengan tuduhan penganiayaan bersama-sama.
Bagi kami, ini adalah usaha membunuh gerakan mahasiswa yang sedang memperjuangkan nasib 23.000 mahasiswa Unsyiah, dan puluhan ribu mahasiswa yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Kami juga menyesalkan sikap rektorat yang terkesan tak acuh, sehingga masalah ini harus diselesaikan dan ditangani oleh pihak luar, yaitu kepolisian.
Kami juga sangat menyesalkan sikap PEMA yang dingin dalam merespon isu BHP, malah sepertinya PEMA sibuk mengurusi hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan mahasisiwa, seperti penertiban atribut parpol PKS dan beberapa partai dalam pemberitaan media Serambi Indonesia (28/12).

Ya. Kami tau, atribut partai boleh bersih di kampus kita, tapi buat apa jika masih ada Ideologi Partai yang masih terpatri di otak kita ?
Salam Perlawanan.

Twk. Oryza R.K.
adalah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Unsyiah dan Presidium Gerakan KITA, anggota Front Mahasiswa Aceh Tolak BHP