“Jadi memilih jadi borju atau melawan? Atau menjadi borju yang melawan? Atau menjadi borju yang melawan dengan menulis? Atau menjadi borju yang melawan dengan tidak menulis lagi? Yang tidak baik adalah tetap yang pertama: menjadi borju; atau borju yang melawan tapi tidak menulis lagi karena sibuk melawan. Yang ingin aku sarankan sebagai bekas borju sekurang-kurangnya adalah menjadi borju yang melawan dengan menulis. Menjadi borju adalah nasib buruk di mata para pelawan. Menjadi pelawan dengan hanya mengandalkan toa dan retorika hanya akan menyisakan nostalgia pada hari tua setelah suara habis.”
dari si Merlot Merah
Salam, Merlot Merah. Malam ini, malam yang biasa. Setelah meneguk dua gelas kopi bersama teman teman di kedai pinggir sungai asycheh, tepat di depan benteng hijau yang dingin berdiri. Malam ini, malam yang biasa. Setelah aksi siang tadi, berteriak dengan lantang. menghujat orang orang yang ingin memotong tangan si miskin yang mencuri karena lapar, namun membiarkan si kaya penuh kuasa tertawa dalam penghisapannya terhadap si jelata yang tak berdaya. Hari itu, sebuah kitab peraturan disahkan. Sebuah kitab peraturan yang akan diberi legitimasi oleh ‘cap tuhan’. Namanya kitab qanun jinayah. Setelah berijtihad dengan teman teman, muncul kesimpulan, bahwa tuhan sudah tidak hadir lagi untuk melindungi si lemah, kaum papa. Namun tuhan sudah memihak kepada si zhalim, mereka yang berlindung di balik kekuasaan. Karena termaktub dalam kitab qanun jinayah itu, sebagaimana kitab yang sudah dituliskan dan yang akan dituliskan oleh mereka yang mengaku sebagai perwakilan setiap insan, yang lemah maupun kuat, yang kaya maupun miskin. Merlot, bantah aku jika aku salah, sila baca kitab itu. Tak sanggup kuutarakan seluruh isi kitab di dalam
Bantah aku jika aku salah Merlot!
Merlot, sudah banyak kitab peraturan yang dikeluarkan, dan akan banyak lagi. Semua di beri ‘cap tuhan’. Kau tahu Merlot, di negeri tempat aku tinggal ini, minuman keras dilarang keras. Ini juga diatur dalam salah satu kitab peraturan yang sudah diberi ‘cap tuhan’. Tetapi tenang saja, Merlot, kalau kau datang ke negeriku, kau akan bisa mendapatkan segala jenis minuman yang kau sukai. Yaa, terlintaslah di kepalamu segala macam merk, rasa dan segala bentuk botol yang terlihat seksi. Seksi? Di negeriku, wanita berpenampilan seksi tidak bisa kau lihat. Tidak ada perempuan yang mengenakan sepatu hak tinggi, rok mini, tank top tali sphageti, dan membiarkan rambut terurai jatuh ke permukaan punggungnya yang mulus. Semua perempuan diharuskan membungkus diri mereka dengan pakaian longgar dan jilbab. Suka atau tidak, ikhlas atau menolak, mereka harus mengenakannya. Bagi mereka yang menolak untuk berpakaian seperti itu, akan berhadapan dengan para
‘polisi tuhan’ the Watcher of Holy god (WH), yang tentunya
Merlot, tentu kau akan bertanya, negeri apa tempat aku tinggal ini? Sama sekali tidak mirip dengan tempat dimana kau berasal. Kuberitahu kau sesuatu, negeri ini, negeri dimana aku tinggal, adalah negeri 1001 kepalsuan. Ini adalah negeri dimana kami hanya melihat wajah tuhan yang kita yakini dengan wajah yang bengis. Di sini dimana kami merasa tuhan menatap kami dengan penuh kemurkaan, sampai mengalahkan rahmat-NYA luas. Di negeri ini, Merlot, kami seperti domba-domba galau yang harus dipecut agar tidak tersesat untuk sampai pada
Merlot, kau tidak perlu risau soal WH. Di negeri ini, cap tuhan tidak berlaku untuk mereka yang berseragam hijau dan memegang senjata. Kuasa mereka di sini kebal, atau cukup menakutkan untuk lebih mampu memberikan bukti apa ganjaran bagi mereka yang melawan. Sederhananya, di negeri kami, kuasa mereka yang berseragam hijau dan memegang senjata lebih mampu menghadirkan neraka langsung ke dalam kehidupan nyata ketimbang tuhan. Merlot, kau mungkin bisa menanamkan sedikit uangmu untuk investasi di negeri ini, mungkin kau bisa membangun sebuah klub malam yang seliar imajinasimu Merlot Merah. Ku tahu kau pecinta klub malam dan segenap kebinalan gelap dalam tudung malam. Kau tidak berjudi dengan investasi macam itu, selain berjudi itu dilarang di negeri kami, aku jamin usahamu itu akan laris manis. Penduduk negeri kami begitu haus hiburan ketimbang haus iman, Merlot. Bukanya kami sudah bosan beriman atau menolak beriman, tetapi segala kitab peraturan yang di beri ‘cap tuhan’ menjelaskan, sepertinya iman hanya milik sekelompok kecil manusia di negeri ini. Yang lainnya, karena tidak beriman, tidak lebih ubahnya kumpulan domba-domba yang butuh gembala, dari mereka yang menerima email tuhan setiap seminggu sekali. Merlot, jika kau benar-benar ingin meneruskan niatmu untuk menancapkan namamu di setiap penjuru dunia, “Night Klub Red Merlot”. Aku yakin, jika kau dirikan klub malam di negeri aku ini, pasti orang akan sesak berkunjung dan ketagihan ingin lagi dan lagi! Bisa mengalahkan popularitas namamu di
Merlot, terimakasih atas nasihatmu untuk terus tetap melawan. Tetapi Merlot, terkadang aku berfikir, aku melawan buat siapa? Buat tuhannya WH dan si nomor 8? Kebengisan tuhan mereka sudah cukup menindas kaum lemah dan papa, membuat kuingin melawan tuhan mereka jua! Atau untuk tuhannya mereka yang berseragam hijau dan bersenjata? Tuhan mereka yang ada di kantongku, sudah cukup untuk membelikanku dua gelas kopi dan sebungkus rokok untuk menghangatkan suasana bersama karibku. Ah, aku bingung Merlot! Aku harus berjuang untuk sebuah tuhan. Harus. Karena di dalam hatiku percaya ada tuhan yang yang hadir untuk semua manusia, tuhan untuk semua, dan Tuhan yang ada untuk semua manusia dalam kepalaku itu, sepertinya sudah dikudeta ribuan kali di negeri ini. Secara tak tahu malu dan segan, mereka mengambil paksa ‘cap tuhan’ , entah itu oleh WH, si nomor 8 atau juga mereka yang berseragam loreng hijau dan bersenjata.
Sekian
Salam hangat, Oryzos.
3 komentar:
Jadi apa kabar merlot merah kau ini? ada bunuh orang dia?
Gak nulis lagi ko? Malu-maluin saja ko punya blog!
MM
Gak nulis lagi ko? Malu-maluin saja ko punya blog!
MM
Posting Komentar